![]() |
JAKARTA – Suasana di selasar Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih mendadak mencekam pada Senin sore, 4 Februari 2008. Kabar duka menyelimuti panggung hiburan saat Luna, sosok yang dikenal dekat dengan lingkaran "Queen of Pantura" Dewi Kirana, mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan komplikasi Muntaber (Gastroenteritis) dan diare parah.
Detik-Detik Terakhir yang Memilukan
Di dalam ruang perawatan intensif, suasana terasa sangat berat. Dewi Kirana tak kuasa menahan isak tangis saat mendampingi saat-saat terakhir Luna. Di tangan Luna, sebuah tasbih melingkar erat, menjadi simbol kepasrahan di tengah deru mesin rumah sakit. Wajahnya tertutup Masker Oksigen Non-Rebreathing (NRM) yang berusaha menyuplai napas terakhir ke paru-parunya.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari sebuah radio kecil di sudut ruangan memberikan kontras yang menyayat hati dengan bunyi beeping dari monitor jantung yang kian melemah. Ketegangan memuncak saat Nenti datang menjenguk; tak lama setelah kedatangannya, garis statis muncul di layar monitor. Jeritan histeris dan tangis mengamuk pecah seketika, menggetarkan dinding kamar perawatan saat tim medis menyatakan Luna telah tiada.
Di dalam ruang perawatan yang kental dengan aroma medis, pemandangan memilukan terlihat jelas. Luna terbaring lemah dengan Masker Oksigen Non-Rebreathing (NRM) yang menutupi sebagian wajahnya, berjuang menghirup napas terakhir. Jemari tangannya yang pucat tampak melingkar erat pada sebuah tasbih, menandakan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.
Suasana hening hanya dipecah oleh bunyi statis dari monitor jantung yang menunjukkan ritme tidak teratur, serta lantunan ayat suci Al-Qur'an yang mengalun rendah dari sebuah radio kecil di sudut tempat tidur. Dewi Kirana, sang Queen of Pantura, tak mampu membendung isak tangisnya saat menyaksikan kondisi sahabatnya tersebut.
Puncak kesedihan pecah ketika Nenti tiba di ruangan. Isak tangis berubah menjadi jeritan histeris dan amuk duka yang tak terkendali saat monitor jantung akhirnya mengeluarkan bunyi datar panjang—menandakan Luna telah berpulang ke hadirat-Nya.
Di dalam ruang perawatan, suasana terasa sangat spiritual sekaligus menyesakkan. Luna terbaring lemah dengan Masker Oksigen Non-Rebreathing (NRM) yang menutupi wajahnya, berusaha memberikan pasokan oksigen maksimal di tengah kondisi tubuh yang terus merosot. Jemari tangannya masih melingkar pada seuntai tasbih, menandakan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.
Suara ritmis dari monitor jantung yang awalnya tidak stabil perlahan berubah menjadi garis lurus statis, memicu kepanikan medis. Di sudut ruangan, sebuah radio kecil terus melantunkan ayat suci Al-Qur'an, memberikan kontras yang menyayat hati dengan bunyi alarm monitor yang melengking.
Keadaan menjadi tidak terkendali saat Nenti, kerabat dekat almarhumah, memasuki ruangan. Begitu menyadari Luna telah tiada, Nenti jatuh tersungkur, menangis histeris, dan mengamuk dalam jeritan yang memecah keheningan rumah sakit, meratapi kepergian sahabatnya yang begitu cepat.
Perjuangan Terakhir di Ruang Perawatan
Di dalam ruang perawatan yang sunyi, pemandangan menyayat hati terlihat jelas. Luna terbaring lemah dengan Masker Oksigen Non-Rebreathing (NRM) yang menutupi wajahnya, mencoba menyuplai sisa-sisa napas yang kian berat. Di tangannya, sebuah tasbih melingkar erat, menjadi simbol kepasrahan terakhirnya kepada Sang Pencipta.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an mengalun rendah dari sebuah radio kecil di sudut ruangan, menciptakan suasana spiritual yang kental di tengah bunyi ritmis monitor jantung yang kian melemah. Kehadiran Dewi Kirana, sang bintang Queen of Pantura, menambah suasana haru. Isak tangis Dewi pecah saat melihat kondisi sahabatnya yang kian kritis.
Puncak Kesedihan: Amukan dan Jerit Histeris
Ketegangan memuncak ketika sosok Nenti datang menjenguk. Tak kuasa menahan beban emosional melihat Luna meregang nyawa, Nenti sempat mengalami syok berat. Saat garis lurus muncul di monitor jantung menandakan Luna telah tiada, Nenti meledak dalam tangis dan jeritan histeris, bahkan sempat mengamuk karena tak rela melepas kepergian sang artis.
Pelayat dari Berbagai Belahan Dunia: Dari Sirkuit hingga Visual Novel
Kejadian ini menarik perhatian yang luar biasa. Tak hanya rekan sesama artis lokal, namun deretan tokoh ikonik yang dikenal sebagai representasi era emas F1 GP Jepang (1989-1999) dan bintang-bintang Visual Novel turut hadir memberikan penghormatan terakhir di RSIJ Cempaka Putih.
Daftar Tokoh yang Hadir Melayat:
| Asal Karya / Seri | Nama Tokoh |
| Angel's Feather | Hamura Shou, Misono Kai, Mizouchi Sena, Todou Shion, Osaka Kurisu, Uesugi Nagi, Aoki Naoto, Kaoru Kimura, Shingo Souma |
| IZUMO | Touma Hikaru, Kurashima Nagisa, Minase Nanami, Touma Miyuki, Yagi Takeru, Yamato Takeshi, Oosu Seri, Shiratori Asuka, Shiratori Kotono, Sakuya, Kudou Kakeru |
| Kannagi No Tori | Renjaku, Watanuki Ruu, Ikaru |
| D.N. Angel | Daisuke Niwa |


0 comments:
コメントを投稿