BAGI Anda yang sempat menjadi pembaca majalah Aktuil atau Top yang mengkhususkan diri pada berita musik tahun 1970-an, tentu sering membaca sejumlah tulisan tentang Koes Ploes, Panbers, D'lloyd ataupun The Mercy's. Jika kebetulan mengadakan pertunjukan di atas satu panggung, seakan-akan terjalin duel di antara mereka. Seakan-akan ingin saling mengalahkan.
Adalah lain halnya, ketika personil keempat grup bertemu dalam acara Gelar Musik Legendaris yang diadakan dan disiar langsung TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) hari Sabtu (30/11/96) lalu di Lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya. Semuanya adalah sahabat, setiap bertemu selain dipenuhi pembicaraan tentang masa lalu yang manis, diselingi canda dan gelak-tawa.
Penyanyi-penyanyi yang seangkatan dengan keempat grup itu, seperti Eddy Silitonga, Muchsin Alatas, A. Rafiq, Elvy Sukaesih, Titiek Hamzah dan Ida Leila juga hadir. Sedangkan Gubernur Jatim Basofi Sudirman mempromosikan lagu barunya, Hanya Engkau Yang Kupilih. Generasi muda era itu yang ikut dalam barisan legendaris itu adalah grup lawak Patrio dan kelompok dangdut Manis Manja.
Kisah Yon dan Susi
"Koes Bersaudara adalah penggemar Dara Puspita. Ketika kami berangkat ke Eropa, ada anggota Koes Bersaudara yang patah hati, sehingga lahir lagu-lagu Andaikan Kau Datang, Rindu dan lain-lainnya," kata Titiek Hamzah (waktu itu 47 tahun), pemetik gitar bass Dara Puspita, grup musik wanita yang sempat go-international di Eropa pada akhir tahun 60-an.
Yon Koeswoyo (waktu itu 51 tahun), penyanyi, pencipta lagu dan pemetik gitar Koes Plus merasa disindir hanya senyum-senyum saja. Yang dimaksudkan Titiek Hamzah adalah kisah cinta Yon dengan penabuh drum Dara Puspita, Susi Nander yang pada tahun 1996 itu berusia 49 tahun.
Entah direncanakan entah tidak, ternyata Susi Nander hadir di belakang panggung pada malam pertunjukan dan tampak berbicara akrab dengan Yon Koeswoyo. Bahkan keesokan harinya Susi Nander membawa tiga putrinya untuk diperkenalkan kepada Yon.
Susi Nander adalah primadona Dara Puspita. Dia menikah dengan salah seorang teman dekat Albert Sumlang, peniup saksofon The Mercy's. Jadi tidak heran, Susi juga terlibat obrol serius dengan Albert.
"Dulu, Susi Nander adalah seorang yang punya arti khusus bagi saya. Banyak lagu yang saya ciptakan untuk dia," kata Yon.
Albert Sumlang juga tidak mau kalah dan mengakui bahwa kalau sedang jatuh cinta, akan menjadi tema sangat menarik jika dituangkan dalam sebuah lagu. Kisah Seorang Pramuria yang dicitakan Albert adalah salah satu lagu The Mercy's yang populer.
"Tapi kalau harus jatuh cinta terus untuk bisa mencipta lagi, ya....repot dong," kata Albert mengoreksi diri.
The Mercy's tampil sebagai grup pembuka Gelar Musik Legendaris TPI dengan kostum paling rapi. Pemirsa televisi yang menyaksikan siaran langsung pergelaran musik legendaris itu, memuji grup asal Medan ini.
"Kami terakhir tampil bersama tahun 1990. Itu pun adalah sebuah acara yang tidak untuk umum, pembagian Legend Award Asiri (Asosiasi Industri Musik Indonesia). Setelah ini kami berusaha untuk tetap meramaikan kehadiran grup musik legendaris," janji Rinto Harahap (waktu itu 48 tahun), pemetik gitar bas, penyanyi dan pencipta lagu The Mercy's.
Napas Baru
Jika The Mercy's tetap mengandalkan anggota yang sama ketika mereka pertama kali berkiprah dalam industri musik, tidak demikian halnya dengan grup lainnya.
Koes Plus diperkuat pemain muda sebagai napas baru. Hans dipercayakan pada gitas bas yang untuk sementara menggantikan posisi Yok Koeswoyo yang sedang istirahat. Sementara kedudukan Tony Koeswoyo (almarhum) dipercayakan pada Najib. Yon sebagai vokalis utama, diperkuat dua penyanyi latar, Yanto dan Joko. Begitu juga D'lloyd yang dipimpin Bartje van Houten, merasa perlu mengikutsertakan peniup saksofon Yuyun (mantan anggota grup Pretty Sisters tahun 1974 - 1979), untuk menggantikan posisi Andrey (almarhum). Sementara Panbers diperkuat Maxi Pandelaki (gitar) dan Henry Lamiri (biola).
Dengan penambahan napas baru itu, alhasil penampilan grup-grup legendaris itu menjadi lebih menarik. Sementara The Mercy's yang baru kali ini ikut nimbrung, memang menjadi pusat perhatian dan Rinto Harahap dkk tidak mengecewakan masyarakat yang menunggu debut mereka.
Tidak kalah menariknya adalah penampilan Elvy Sukaesih (waktu itu 48 tahun). Memang tidak salah jika menyebutnya sebagai Ratu Dangdut. Penonton seakan-akan terpukau menyaksikan gerak dan alunan suaranya lewat lagu Mandi Madu dan Sumpah Benang Emas.
"Gimana, ya? Saya masih seperti yang dulu. Ya, saya memang menjaga kebugaran. Supaya tetap siip kalau berada di atas panggung," ujar Elvy seusai menyanyi.
Diiringi Orkes Melayu Mahkota pimpinan suaminya sendiri, Zaidun Zeth, usai tampil untuk TPI, Elvi bertolak menuju Jepang pertengahan Desember ini untuk serangkaian pertunjukan bersama televisi Jepang NHK.
Jika kemudian Elvy terlihat berbicara dengan Murry, penabuh drum Koes Ploes, tentu berhubungan dengan lagu Cubit-Cubitan. Lagu yang diciptakan Murry itu, sangat populer setelah dinyanyiklan Elvy pertengahan tahun 70-an.
Mulai dari hotel tempat rombongan menginap, belakang panggung sampai di bandara, Titiek Hamzah, Bartje van Houten, Benny Panbers dan Muchsin Alatas tercatat sebagai penyegar suasana. Ada saja cerita mereka yang membuat tawa.
Semuanya menjadi begitu akrab, maklum ada yang belasan tahun, bahkan 20-an tahun, tidak sempat bertemu. Titiek Hamzah sendiri terakhir bertemu Susi Nander tahun 1976 dan Yon tahun 1972.
REUNI - Bagaikan sebuah reuni, anggota grup Koes Plus, The Mercy's, Panbers dan D'lloyd dikumpulkan TPI di Surabaya. Terlihat Ais Soehana(organizer Koes Plus), Albert Sumlang(The Mercy's), Syam(D'lloyd), Yon dan Murry (Koes Ploes) bercengkramaa di luar panggung. |