2006年11月30日木曜日

月の戦い


私の新しいグラマー RQのギフトギャラリーをKonalafasyから受け取りました 撮影写真の場合 ありがとう 

 

Reuni di belakang panggung, gelar musik legendaris tpi

BAGI Anda yang sempat menjadi pembaca majalah Aktuil atau Top yang mengkhususkan diri pada berita musik tahun 1970-an, tentu sering membaca sejumlah tulisan tentang Koes Ploes, Panbers, D'lloyd ataupun The Mercy's. Jika kebetulan mengadakan pertunjukan di atas satu panggung, seakan-akan terjalin duel di antara mereka. Seakan-akan ingin saling mengalahkan.

Adalah lain halnya, ketika personil keempat grup bertemu dalam acara Gelar Musik Legendaris yang diadakan dan disiar langsung TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) hari Sabtu (30/11/96) lalu di Lapangan Kodam V Brawijaya, Surabaya. Semuanya adalah sahabat, setiap bertemu selain dipenuhi pembicaraan tentang masa lalu yang manis, diselingi canda dan gelak-tawa.

Penyanyi-penyanyi yang seangkatan dengan keempat grup itu, seperti Eddy Silitonga, Muchsin Alatas, A. Rafiq, Elvy Sukaesih, Titiek Hamzah dan Ida Leila juga hadir. Sedangkan Gubernur Jatim Basofi Sudirman mempromosikan lagu barunya, Hanya Engkau Yang Kupilih. Generasi muda era itu yang ikut dalam barisan legendaris itu adalah grup lawak Patrio dan kelompok dangdut Manis Manja.

Kisah Yon dan Susi

"Koes Bersaudara adalah penggemar Dara Puspita. Ketika kami berangkat ke Eropa, ada anggota Koes Bersaudara yang patah hati, sehingga lahir lagu-lagu Andaikan Kau Datang, Rindu dan lain-lainnya," kata Titiek Hamzah (waktu itu 47 tahun), pemetik gitar bass Dara Puspita, grup musik wanita yang sempat go-international di Eropa pada akhir tahun 60-an.

Yon Koeswoyo (waktu itu 51 tahun), penyanyi, pencipta lagu dan pemetik gitar Koes Plus merasa disindir hanya senyum-senyum saja. Yang dimaksudkan Titiek Hamzah adalah kisah cinta Yon dengan penabuh drum Dara Puspita, Susi Nander yang pada tahun 1996 itu berusia 49 tahun.

Entah direncanakan entah tidak, ternyata Susi Nander hadir di belakang panggung pada malam pertunjukan dan tampak berbicara akrab dengan Yon Koeswoyo. Bahkan keesokan harinya Susi Nander membawa tiga putrinya untuk diperkenalkan kepada Yon.

Susi Nander adalah primadona Dara Puspita. Dia menikah dengan salah seorang teman dekat Albert Sumlang, peniup saksofon The Mercy's. Jadi tidak heran, Susi juga terlibat obrol serius dengan Albert.

"Dulu, Susi Nander adalah seorang yang punya arti khusus bagi saya. Banyak lagu yang saya ciptakan untuk dia," kata Yon.

Albert Sumlang juga tidak mau kalah dan mengakui bahwa kalau sedang jatuh cinta, akan menjadi tema sangat menarik jika dituangkan dalam sebuah lagu. Kisah Seorang Pramuria yang dicitakan Albert adalah salah satu lagu The Mercy's yang populer.

"Tapi kalau harus jatuh cinta terus untuk bisa mencipta lagi, ya....repot dong," kata Albert mengoreksi diri.

The Mercy's tampil sebagai grup pembuka Gelar Musik Legendaris TPI dengan kostum paling rapi. Pemirsa televisi yang menyaksikan siaran langsung pergelaran musik legendaris itu, memuji grup asal Medan ini.

"Kami terakhir tampil bersama tahun 1990. Itu pun adalah sebuah acara yang tidak untuk umum, pembagian Legend Award Asiri (Asosiasi Industri Musik Indonesia). Setelah ini kami berusaha untuk tetap meramaikan kehadiran grup musik legendaris," janji Rinto Harahap (waktu itu 48 tahun), pemetik gitar bas, penyanyi dan pencipta lagu The Mercy's.

Napas Baru

Jika The Mercy's tetap mengandalkan anggota yang sama ketika mereka pertama kali berkiprah dalam industri musik, tidak demikian halnya dengan grup lainnya.

Koes Plus diperkuat pemain muda sebagai napas baru. Hans dipercayakan pada gitas bas yang untuk sementara menggantikan posisi Yok Koeswoyo yang sedang istirahat. Sementara kedudukan Tony Koeswoyo (almarhum) dipercayakan pada Najib. Yon sebagai vokalis utama, diperkuat dua penyanyi latar, Yanto dan Joko.
Begitu juga D'lloyd yang dipimpin Bartje van Houten, merasa perlu mengikutsertakan peniup saksofon Yuyun (mantan anggota grup Pretty Sisters tahun 1974 - 1979), untuk menggantikan posisi Andrey (almarhum). Sementara Panbers diperkuat Maxi Pandelaki (gitar) dan Henry Lamiri (biola).

Dengan penambahan napas baru itu, alhasil penampilan grup-grup legendaris itu menjadi lebih menarik. Sementara The Mercy's yang baru kali ini ikut nimbrung, memang menjadi pusat perhatian dan Rinto Harahap dkk tidak mengecewakan masyarakat yang menunggu debut mereka.

Tidak kalah menariknya adalah penampilan Elvy Sukaesih (waktu itu 48 tahun). Memang tidak salah jika menyebutnya sebagai Ratu Dangdut. Penonton seakan-akan terpukau menyaksikan gerak dan alunan suaranya lewat lagu Mandi Madu dan Sumpah Benang Emas.

"Gimana, ya? Saya masih seperti yang dulu. Ya, saya memang menjaga kebugaran. Supaya tetap siip kalau berada di atas panggung," ujar Elvy seusai menyanyi.

Diiringi Orkes Melayu Mahkota pimpinan suaminya sendiri, Zaidun Zeth, usai tampil untuk TPI, Elvi bertolak menuju Jepang pertengahan Desember ini untuk serangkaian pertunjukan bersama televisi Jepang NHK.

Jika kemudian Elvy terlihat berbicara dengan Murry, penabuh drum Koes Ploes, tentu berhubungan dengan lagu Cubit-Cubitan. Lagu yang diciptakan Murry itu, sangat populer setelah dinyanyiklan Elvy pertengahan tahun 70-an.

Mulai dari hotel tempat rombongan menginap, belakang panggung sampai di bandara, Titiek Hamzah, Bartje van Houten, Benny Panbers dan Muchsin Alatas tercatat sebagai penyegar suasana. Ada saja cerita mereka yang membuat tawa.

Semuanya menjadi begitu akrab, maklum ada yang belasan tahun, bahkan 20-an tahun, tidak sempat bertemu. Titiek Hamzah sendiri terakhir bertemu Susi Nander tahun 1976 dan Yon tahun 1972.

REUNI - Bagaikan sebuah reuni, anggota grup Koes Plus, The Mercy's, Panbers dan D'lloyd dikumpulkan TPI di Surabaya. Terlihat Ais Soehana(organizer Koes Plus), Albert Sumlang(The Mercy's), Syam(D'lloyd), Yon dan Murry (Koes Ploes) bercengkramaa di luar panggung.

 

Gelar musik legendaris tpi di surabaya

SELURUH artis pendukung "Gelar Musik Legendaris TPI '96" sudah berada di Surabaya sejak Rabu (27/11/96). Koes Ploes, Panbers, D'Lloyd, The Mercy's, Elvy Sukaesih, A Rafiq, Ida Laila, Eddy Silitonga, Muchsin Alatas, Titiek Hamzah, Manis Manja Group serta Orkestra Melayu Mahkota hadir dalam jumpa pers di Hotel Radisson Surabaya, Jumat (29/11/96) siang.

"Mengapa ada penyanyi yang belum legendaris juga diikutsertakan? Tidak lain karena ini sebuah pertunjukan yang merupakan kesatuan. Penyanyi muda ikut hadir sebagai pembawa lagu-lagu nostalgia," kata Direktur Operasi Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Ishadi SK, waktu itu.

Sementara Yon Koeswoyo yang ditanya tentang bubarnya Koes Ploes mengatakan, adiknya Yon Koeswoyo memang tidak ikut serta kali ini. "Dia sedang istirahat, terus terang tidak ada apa-apa di antara kami. Suatu saat nanti kami akan tampil bersama," ujarnya waktu itu.

Penampilan Yon dan Murry diperkuat Hans sebagai pemain gitar bass menggantikan Yok. Sementara Najib memegang keyboard dan vokal Yon sendiri didukung Yanto dan Joko.

Menurut Humas TPI, Theresia Ellasari, sebuah studio mini didirikan di Lapangan Makodam Brawijaya sebagai Posko delapan kamera yang dioperasikan di panggung.

"Sound system 130.000 watt, lighting 1,3 megawatt, panggung ukuran 21 x 15 meter dengan tambahan sayap masing-masing 10 meter di kiri dan kanan. Juga ada kembang api, laser dan layar video tiga buah," ujar pengarah acara Anis Ilahi.

Menyangkut biaya yang dikeluarkan untuk siaran langsung ini, Ishadi mengatakan sekitar Rp 800 juta dan seluruh biaya diperoleh dari iklan. "Inilah keuntungan sebuah stasiun televisi mengadakan acara on air. Selain seluruh biaya bisa diperoleh dari iklan, pihaknya juga mendapat bahan untuk mengisi acara selingan," kata Ishadi.

Acara yang disiarkan langsung TPI dari Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya ini waktu itu akan dibuka KSAD Jenderal Hartono, Menpora Hayono Isman, Menteri Kependudukan Haryono Suyono, Siti Hardiyanti Rukmana (pemilik TPI), dan Pangdam III Brawijaya. Gubernur Basofi Sudirman juga waktu itu akan tampil dengan lagu barunya "Hanya Engkau Yang Kupilih" ciptaan Leo Waldy yang juga mencipta lagu sebelumnya "Tidak Semua Piano

Jadwal Acara TPI - Sabtu, 30 November 1996
JamAcaraKeterangan
05:30Sign On & PembukaanLagu Indonesia Raya & Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an
06:00Selamat Pagi Ibu PertiwiBerita dan informasi ringan
07:30Serial Kartun PagiProgram anak-anak
09:00Dokumenter PendidikanSesuai misi awal TPI sebagai tv pendidikan
11:00Kuis DangdutHost: Jaja Mihardja (Ikonik TPI)
13:00Lintas SiangBerita terkini
14:00Sinema SiangFilm Indonesia klasik
16:30Lintas SoreBerita sore
19:30Konser Musik Legendaris '96Live dari Surabaya
23:30Lintas MalamBerita penutup hari
00:00Sign OffLagu Bagimu Negeri & Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an

Sorotan Utama: Konser Legendaris 96

Konser ini sangat ikonik karena berhasil menyatukan dua kubu penggemar besar, yaitu penggemar Pop Nostalgia dan Dangdut klasik. Surabaya dipilih karena basis massa penggemar musik melayu dan pop lama yang sangat fanatik.

Daftar Penampil Utama:

  • The Big Four (Pop): Koes Ploes, Panbers, D’Lloyd, dan The Mercy’s.

  • Raja & Ratu (Dangdut/Melayu): Elvy Sukaesih, A. Rafiq, Ida Laila, Muchsin Alatas, dan pendatang baru saat itu, Manis Manja Group.

  • Solois Legendaris: Eddy Silitonga dan Titiek Hamzah.

  • Pembawa Acara: Farida Utami, yang saat itu merupakan salah satu host ikonik TPI yang dikenal luwes dalam membawakan acara musik. 

Ciri Khas Sign-On & Sign-Off TPI 90-an

Seperti yang Anda ingat, TPI memiliki identitas yang sangat religius dan edukatif pada masa itu:

  1. Sign On (Pembukaan): Dimulai dengan lagu Indonesia Raya, visual bendera berkibar, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an (biasanya oleh Qori ternama) beserta terjemahannya untuk memulai hari dengan berkah.

  2. Sign Off (Penutupan): Sebelum pemancar dimatikan, TPI selalu memutar lagu Bagimu Negeri, ditutup kembali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an sebagai pengantar istirahat bagi pemirsa. Visualnya sering kali menampilkan cuplikan masjid atau alam Indonesia yang tenang.

Identitas Siaran (Sign On, Sign Off, & Adzan)

Sesuai dengan ciri khas TPI pada pertengahan 90-an yang religius dan merakyat, berikut adalah detail teknisnya:

  • Sign On & Sign Off (Pembaca Al-Qur'an): Biasanya diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Qari ternama Indonesia. Pada masa itu, TPI sering menggunakan rekaman H. Muammar ZA atau H. Nanang Qosim. Video latar belakangnya biasanya menampilkan pemandangan alam Indonesia atau kaligrafi masjid.

  • Adzan Maghrib: Pada tahun 1996, TPI menggunakan Adzan Maghrib versi Masjid Istiqlal atau terkadang visual Masjid Agung Jawa Tengah. Keunikan TPI adalah sering menampilkan cuplikan kegiatan masyarakat (seperti anak-anak mengaji atau petani pulang dari sawah) sebelum masuk ke visual muadzin.

  • Lagu Kebangsaan: Setiap pembukaan (Sign On) dan penutupan (Sign Off) wajib memutar lagu Indonesia Raya dengan visual bendera berkibar dan pembangunan nasional.


 

The Best Of DivaDut