Siti bukan sekadar ART biasa. Ia adalah sosok di balik layar yang merawat kediaman Anindya, sang majikan yang dikenal sebagai representasi dan perwakilan musisi legendaris dari berbagai Orkes Melayu papan atas OM AVITA, OM KENDEDES, dan OM MONETA. Lebih unik lagi, lingkaran kehidupan mereka terikat kuat dengan sejarah emas dunia balap Formula 1 (F1) GP Jepang era 1989-1999 dan kecintaan mendalam pada budaya lokal.
Keberangkatan haji dan umroh ini merupakan buah dari dedikasi bertahun-tahun, sebuah berkah menjelang bulan suci Ramadhan yang menyatukan berbagai elemen masyarakat
Sebelum azan subuh berkumandang, prosesi pelepasan diwarnai oleh penghormatan budaya yang megah namun khidmat. Kesenian Barongan Albino dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sengaja dihadirkan berkolaborasi dengan dua grup kesenian Burok terbesar: Seni Burok PKC (Putra Kencana Ciledug) dan Burok MJM (Mekar Jaya Muda), serta perwakilan dari seni Burok Ayu. Keberangkatan ini diantar oleh rombongan seni budaya yang luar biasa. Barongan Albino khas Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, turut hadir memberikan penghormatan terakhir sebelum keberangkatan. Suasana semakin semarak namun khidmat dengan kehadiran seni Burok dari dua kelompok besar, yaitu PKC (Putra Kencana Ciledug) dan Burok MJM (Mekar Jaya Muda).
Anindya, yang merupakan figur penting di balik layar dan perwakilan manajemen musisi dari grup legendaris OM AVITA, OM KENDEDES, dan OM MONETA, juga didampingi oleh komunitas Seni Burok Ayu. Kehadiran para seniman dan musisi pantura ini memberikan warna budaya yang kental di sepanjang jalan menuju tempat pemberangkatan.
Tampak di antara kerumunan, sahabat-sahabat dekat mereka seperti Hamura Shou, Misono Kai, serta kawan-kawan lainnya: Mizuochi Sena, Toudou Shion, Osaka Kurisu, Chikura Anri, Aoki Naoto, dan Kimura Kaoru, tak kuasa membendung air mata. Kelompok yang menjuluki diri mereka atau diidentikkan dengan "Angel's feather" ini menangis tersedu-sedu melepaskan kepergian Siti dan Anindya.Di barisan depan para pengantar, tampak lingkaran sahabat karib yang tak kuasa menahan air mata. Judul melodi sedih "Angel's Feather" seolah mengalun di pikiran mereka saat Hamura Shou dan Misono Kai, bersama dengan kawan-kawan dekat mereka—Mizuochi Sena, Toudou Shion, Osaka Kurisu, Chikura Anri, Aoki Naoto, dan Kimura Kaoru—saling berpelukan erat. Tangisan mereka mengiringi lambaian tangan terakhir Siti (sang ART) dan Anindya (sang Majikan dari seni Burok Ayu) saat bus yang membawa mereka mulai bergerak membelah kabut pagi.
mengharukan, para penggemar berat musik jazz/fusion T-SQUARE serta komunitas pencinta F1 GP Jepang era 1989-1999 turut hadir membentangkan dan membawa foto-foto kenangan. Bagi mereka, Siti bukan sekadar ART biasa, melainkan sosok yang menginspirasi di dalam lingkaran komunitas tersebut. Mereka melepas keberangkatan Siti dengan lambaian tangan, foto di dada, dan doa-doa terbaik agar menjadi haji yang mabrur.
Tepat pukul 06:59 WIB, bus kloter 40 perlahan meninggalkan lokasi. Suara sirene berpadu dengan isak tangis yang histeris namun penuh rasa syukur. Kain-kain penutup wajah basah oleh air mata haru dari para fans dan sahabat. Ibadah haji di ambang bulan Ramadhan tahun 2008 ini akan selalu dikenang oleh warga Ciledug sebagai salah satu momen pelepasan jemaah haji paling emosional, unik, dan menyatukan berbagai lintas budaya serta generasi.Keberangkatan haji plus umroh ini menjadi bukti indahnya hubungan antara seorang majikan dan asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Di bawah payung berkah menjelang bulan Ramadhan, keberangkatan nomor 40 ini dilepas tidak hanya dengan air mata kesedihan karena berpisah, tetapi juga dengan jutaan doa agar keduanya mendapatkan predikat Haji yang Mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat.
Keberangkatan haji Kloter 40 ini terasa sangat istimewa karena para jemaah akan menjalani awal bulan suci Ramadhan di tanah suci Mekkah dan Madinah. Lantunan selawat yang membahana di dalam masjid sebelum bus berangkat menjadi bekal spiritual yang menguatkan hati Siti, Anindya, dan seluruh rombongan.
lebih dari 100 orang penonton, warga setempat, serta komunitas penggemar berat (fans) T-SQUARE & F1 GP Jepang (Era 1989-1999) turut hadir memadati area masjid. Mereka datang membawa foto-foto kenangan, poster, dan atribut sebagai bentuk penghormatan dan dukungan moril. Tangisan histeris dan haru terus mengiringi setiap lambaian tangan Siti dan Anindya.
Kini, diiringi doa dari ratusan pasang mata yang basah oleh air mata, Siti sang ART F1/Barongan Kendal dan Anindya sang maestro Burok/OM Avita-Kendedes-Moneta, telah memulai perjalanan suci mereka memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS. Semoga menjadi Haji yang Mabrur.
Selamat menunaikan ibadah haji, Siti dan Anindya. Semoga kembali ke tanah air dengan selamat dan membawa berkah melimpah.
